VISIT SUMATERA BARAT


PUNCAK MANDEH, RAJA AMPATNYA PULAU SUMATERA BARAT



Kawasan Mandeh merupakan perpaduan perbukitan yang alami dengan keindahan teluk yang dihiasi dengan gugusan pulau – pulau kecil yang berada di bagian tengah Teluk Carocok Tarusan. Tidak Heran apabila Kawasan Mandeh ini terkenal di Indonesia maupun di tingkat International.

Puncak mandeh adalah tempat wisata yang menyerupai Raja Ampat di Kabupaten Pesisir Selatan dan berbatasan langsung dengan kota Padang. Puncak Mandeh terletak kurang lebih 56km dari Kota Padang dan dapat ditempuh menggunakan mobil selama 1 jam perjalanan. Kawasan wisata Mandeh sendiri mempunyai area seluas 18.000 Ha dan meliputi 7 desa dari 3 nagari yang penduduknya bekerja sebagai nelayan, beternak dan bertani.

Kawasan Mandeh merupakan perpaduan perbukitan yang alami dengan keindahan teluk yang dihiasi dengan gugusan pulau – pulau kecil yang berada di bagian tengah Teluk Carocok Tarusan. Tidak Heran apabila Kawasan Mandeh ini terkenal di Indonesia maupun di tingkat International. Dari Puncak Mandeh, Anda bisa melihat gugusan Pulau Traju, Pulau Setan Kecil, Sironjong besar dan kecil serta Pulau Cubadak dan gradasi warna air lautnya yang menambah keindahan Kawasan Mandeh ini.

Di bagian selatan Kawasan Mandeh tepatnya di Kampung Carocok ada sebuah tanjung meliuk bagaikan sungai, sehingga teluk terlihat bagaikan sebuah danau yang menakjubkan dengan riak – riak kecil. Sedangkan di kawasan utara Mandeh terdapat beberapa pulau yang melingkar, yaitu Pulau Bintangor, Pulau Pagang, Pulau Ular dan Pulau Marak yang berdampingan dengan Pulau Sikuai.
Gerbang masuk Kawasan Mandeh dapat dicapai melalui laut dan jalan darat. Bila naik kapal / boat bisa dari Pelabuhan Bungus, Gaung, Teluk Bayur atau dari Pelabuhan Muara Padang serta Teluk Tarusan. Sedangkan bila melalui jalan darat, terdapat tiga alternative dari tiga ruas jalan yang berbeda, alternative pertama dari Pasar Tarusan melalui simpang carocok dan alternatif kedua dari Bungus terus ke Sungai Pinang dan Sungai Nyalo. Ruas jalan terbaru ialah melewati Carocok lalu menyusuri bibir pantai dan perbukitan yang landai sepanjang 12,5 km.

Sumber https://www.yuktravel.com/trip-ideas-di-indonesia/puncak-mandeh-raja-ampatnya-pulau-sumatera-barat?id=1006836

Jam Gadang



Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".

Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.

Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempapada tahun 2007.

Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam,Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.

Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.

Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleurFort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.[1]

Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.

Sumber http://www.bukittinggikota.go.id/wisata/jam-gadang

Pulau Pasumpahan




Fasilitas :
Cottage, warung makanan & minuman, penyewaan tenda, jasa penyeberangan


Dekat Dengan :
Pulau Pisang
Pelabuhan Teluk Bungus
Pulau Sikuai


Akses & Transportasi :
Via darat dari pusat Kota Padang ke Pelabuhan Teluk Bungus atau Dermaga Sungai Pisang, Kemudian menyeberang dengan menyewa perahu nelayan atau speed boat

Kota Padang memiliki deretan pulau kecil yang indah nan eksotis, salah satunya yang tak boleh Anda lewatkan adalah Pulau Pasumpahan. Pulau Pasumpahan merupakan satu dari 11 gugusan pulau yang ada di perairan depan Kota Padang. Pulau satu ini terletak di perairan Bungus Teluk Kabung dan memiliki luas sekitar 5 hektar.

Sebelumnya, Pulau Pasumpahan mungkin belum begitu populer, namun sekarang banyak diminati wisatawan karena memiliki pasir putih yang halus dan air laut yang relatif masih jernih juga pemandangan alamnya yang indah.

Untuk menyeberang menuju Pulau Pasumpahan, Anda bisa melalui dua titik, yakni melalui Sungai Pisang atau Pelabuhan Teluk Bungus.

Dari pusat Kota Padang ke Pelabuhan Teluk Bungus berjarak hanya 18,6 km. Sementara ke Sungai Pisang lumayan jauh 32,9 km. Namun jika bertolak dari Sungai Pisang penyeberangan lebih cepat dari Pelabuhan Teluk Bungus. Karena jarak dermaga di Sungai Pisang Pulau Pasumpahan lebih dekat dibanding dari Pelabuhan Teluk Bungus.

Setelah menginjakkan kaki di Pulau Pasumpahan, fasilitas yang ada di tempat tersebut terbilang lengkap. Anda bisa menemukan berbagai warung milik warga setempat yang menjual makanan dan minuman dengan harga cukup terjangkau. Selain itu, di Pulau Pasumpahan juga tersedia penginapan bagi Anda yang hendak bermalam.

Pulau Pasumpahan awalnya dikenal sebagai pulau yang tak berpenghuni, namun karena lama-kelamaan dikenal memiliki potensi wisata yang memikat, pulau satu ini pun mulai dikelola oleh masyarakat setempat. Dari yang awalnya hampir tak ada penginapan di Pulau Pasumpahan, kini sudah terdapat beberapa cottage atau pondokan dan diperkirakaan akan terus bertambah.

Selain menyewa penginapan juga bebas mendirikan tenda sendiri untuk berkemah di tepi pantai. Jika tidak membawa tenda, Anda dapat menyewa tenda yang disediakan oleh pihak pengelola dengan biaya sewa cukup terjangkau.

Sumber https://pariwisata.padang.go.id/pulau-pasumpahan

Jembatan Kelok Sembilan


Jembatan Kelok 9 merupakan jembatan yang dibangun dan menghubungkan antar-lembah ini terletak di kawasan hutan suaka alam dengan panjang total jembatan 943 meter dan jalan penghubungnya sepanjang 2.089 meter. Dinamai Kelok Sembilan karena jalanan di daerah itu memiliki 9 belokan atau kelokan. Ruas jalannya sendiri tampak zig-zag menuruni lereng bukit di mana telah dibangun sejak zaman Hindia Belanda (1908-1914).

Jembatan Kelok 9 dibangun karena sebelumnya kondisi jalan di tempat tersebut sempit berkelok-kelok sehingga kendaraan besar harus berhenti dan bergantian melaluinya. Dengan hadirnya jembatan ini membuat jalur transportasi antar-daerah bahkan antar-provinsi semakin lancar. Hal yang membanggakan, jembatan yang indah dan memesona ini merupakan karya anak bangsa dengan menggunakan konsep green construction serta memanfaatkan produksi dalam negeri. Jembatan Kelok 9 dibangun 2011 dan selesai pada 2013. Ketika diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jembatan ini dikatakan sebagai ikon konstruksi nasional yang monumental. Kelok 9 atau Kelok Sembilan adalah ruas jalan berkelok yang terletak sekitar 30 km sebelah timur dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat menuju Provinsi Riau. Jalan ini membentang sepanjang 300 meter di Jorong Aie Putiah, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan merupakan bagian dari ruas jalan penghubung Lintas Tengah Sumatera dan Pantai Timur Sumatera. Jalan ini memiliki tikungan yang tajam dan lebar sekitar 5 meter, berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam: Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau.

Di sekitar Jalan Kelok 9 saat ini telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km. Jembatan ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58 meter. Terhitung, jembatan ini enam kali menyeberangi bolak balik bukit.

Sumber https://travel.kompas.com/read/2014/08/05/153430427/Melintasi.Jembatan.Kelok.9.di.Sumatera.Barat



Share to :