Berita

Kata Pakar, Prof. Alfurqan Ingatkan Esensi Qurban di Tengah Masyarakat yang Semakin Individualistis

Jumat, 22 Mei 2026 Humas UNP - Siti Sarah 325

Padang — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, Guru Besar Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Alfurqan, mengingatkan masyarakat agar tidak memaknai ibadah qurban sebatas penyembelihan hewan semata, melainkan sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan melepaskan “kemelekatan” terhadap hal-hal duniawi.

Menurutnya, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi memahami sejarah kurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi bagaimana mengambil nilai dan hikmah kurban dalam kehidupan modern.

“Persoalan kita hari ini adalah kemelekatan. Ketika harta, jabatan, atau kekuasaan sudah terlalu melekat dalam diri seseorang, maka rasa peduli kepada orang lain menjadi sulit tumbuh,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan “Kata Pakar” yang digagas Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP di Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan UNP, Kamis (21/5/2026).

Selain itu, ia juga mengkritisi fenomena masyarakat yang sering terjebak pada perdebatan fiqih tanpa memahami substansi ajaran kurban itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa dalam persoalan fiqih terdapat banyak penafsiran dan perbedaan pendapat yang seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

“Kita sering merasa pendapat kelompok kita yang paling benar. Padahal para ulama besar mazhab saja tidak pernah saling menyalahkan. Yang penting adalah memahami dasar dan substansi ajarannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, esensi qurban sesungguhnya terletak pada kepatuhan kepada Tuhan dan kesediaan berbagi kepada sesama. Dalam konteks kekinian, nilai pengorbanan itu dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu masyarakat yang membutuhkan, hingga keberanian mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan bersama.

“Qurban hewan adalah bentuk ibadah khusus, sedangkan pengorbanan adalah nilai besar yang harus hidup sebelum, saat, dan sesudah penyembelihan itu dilakukan. Maka orang yang berqurban seharusnya tidak hanya membagi daging, tetapi juga belajar membagi hati, rezeki, kuasa, kenyamanan, dan kepentingan dirinya untuk kemaslahatan yang lebih luas,” katanya.

Dalam diskusi bersama wartawan tersebut, Prof. Alfurqan juga menyinggung pentingnya memandang qurban sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Ia menilai pendistribusian daging kurban seharusnya lebih memperhatikan wilayah yang benar-benar membutuhkan, termasuk daerah terdampak bencana maupun kawasan dengan keterbatasan pangan.

Menurutnya, tidak ada larangan dalam ajaran Islam untuk mendistribusikan daging qurban ke daerah lain selama tujuan utamanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Esensi qurban itu bagaimana manfaatnya bisa dirasakan orang lain, terutama yang membutuhkan. Jadi dalam konteks kebencanaan atau daerah dengan distribusi makanan terbatas, itu justru sangat relevan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Alfurqan turut menyoroti perubahan sosial masyarakat modern yang menurutnya semakin individualistis. Ia menilai semangat pengorbanan dan kontrol sosial di lingkungan masyarakat mulai melemah karena orang lebih sibuk dengan kepentingannya masing-masing.

“Sekarang orang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal pengorbanan itu juga bisa berupa waktu, tenaga, pikiran, bahkan keberanian untuk peduli terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menambahkan, nilai pengorbanan sejatinya tidak hanya hadir saat Idul Adha melalui penyembelihan sapi atau kambing, tetapi juga dalam tindakan membantu sesama, berbagi rezeki, memberi nasihat, hingga berkontribusi bagi masyarakat.

“Pengorbanan itu maknanya luas. Membantu orang dengan tenaga, pemikiran, nasihat, atau kepedulian sosial juga bagian dari pengorbanan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Alfurqan juga mendorong adanya digitalisasi dalam pengelolaan dan pendistribusian qurban agar lebih tertata, transparan, dan tepat sasaran.

“Ke depan, distribusi qurban bisa memanfaatkan teknologi digital. Misalnya data penerima dibuat lebih jelas, menggunakan barcode atau sistem by name by address sehingga pembagian lebih tertib dan tepat sasaran,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi juga dapat mendukung konsep distribusi yang lebih ramah lingkungan dan efisien, mengingat plastik pembungkus daging qurban sering kali menjadi beban lingkungan. Karena itu, pengurus masjid maupun panitia qurban perlu memikirkan alternatif terkait pengurangan sampah plastik dalam mendukung program green ecology, seperti mendorong masyarakat menggunakan wadah sendiri. Selain lebih ramah lingkungan, skema ini juga dinilai mampu mengurangi antrean panjang di masjid atau mushala saat proses pembagian daging qurban. (Tim Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis) #PakarUNP

Share:

SDGs4-quality education

The more that you read, the more things you will know, the more that you learn, the more places you’ll go.”– Dr. Seuss
Author :
Humas UNP - Siti Sarah