humas@unp.ac.id

Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) turut berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026. Pada kegiatan tersebut, UNP diwakili oleh Dr. Nofiyendri Sudiar yang hadir mewakili Rektor UNP.
Kegiatan dilaksanakan di Hutan Kota Malvinas, Kota Padang, yang merupakan kawasan sempadan Sungai Batang Kuranji. Kawasan seluas sekitar 24 hektare tersebut menjadi salah satu lokasi yang terdampak banjir bandang pada akhir tahun 2025. Bencana tersebut menyebabkan banyak pohon mati dan menurunkan kualitas tutupan vegetasi di kawasan hutan kota.
Dalam sambutannya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Malvinas, Leo, menyampaikan bahwa kawasan Hutan Kota Malvinas pernah terendam banjir hingga mencapai ketinggian sekitar dua meter. Oleh karena itu, ia berharap kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi langkah berkelanjutan untuk mewujudkan Green City Malvinas yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan kawasan terhadap bencana.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, Tasliatul Fuaddi, S.Hut., M.H., selaku ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa penanaman pohon ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Menurutnya, upaya rehabilitasi kawasan sempadan Sungai Batang Kuranji merupakan salah satu bentuk aksi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta dari berbagai unsur. Sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam di kawasan Hutan Kota Malvinas, terdiri atas berbagai jenis tanaman produktif dan pohon pelindung seperti kelapa, matoa, mangga, jambu, rambutan, bayur, dan jenis lainnya yang sesuai dengan kondisi kawasan setempat.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, kerugian akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat diperkirakan mencapai sekitar Rp33 triliun, atau setara dengan lima kali Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumatera Barat.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam agar tetap lestari,” ujar Mahyeldi.
Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat untuk aktif melaporkan berbagai aktivitas ilegal yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Menurutnya, dampak dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas ilegal pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya risiko bencana dan menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Selain itu, Mahyeldi berharap Pokdarwis dan masyarakat setempat dapat memastikan ketersediaan air dan pemeliharaan tanaman sehingga pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat ekologis secara optimal. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pohon dari berbagai tindakan yang dapat merusak, termasuk kebiasaan memaku batang pohon.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur turut mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah sembarangan, serta menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. Pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana, menurutnya, merupakan bagian penting dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, kegiatan penanaman pohon ini diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi ekologis kawasan Hutan Kota Malvinas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Partisipasi UNP dalam kegiatan ini merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan, pengurangan risiko bencana, serta penguatan kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
