Peneliti Bahasa dan Seni Berburu Inovasi Era 4.0, ICLA Ke-8 Dibuka Rektor UNP

Peneliti Bahasa dan Seni Berburu Inovasi Era 4.0, ICLA Ke-8 Dibuka Rektor UNP
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Padang -- Di Era revolusi industri 4.0 tak hanya mempengaruhi pada bidang teknologi dan informasi saja. Namun dibidang pendidikan juga mesti bisa berinovasi. Salah satunya pada bidang bahasa dan seni.

Hal inilah yang dibahas secara ilmiah oleh ratusan pemakalah dalam International Conference on Languange and Art (ICLA-8) yang digelar oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, Kamis-Jumat (17-18/10) di Hospitality UNP. 

Kegiatan yang bertema Inovasi Penelitian dan Pendidikan di Bidang Bahasa dan Seni pada Era 4.0 ini dibuka oleh Rektor UNP Prof. Ganefri, Kamis (17/10).

Ganefri mengapresiasi konsistensi FBS yang telah delapan kali melakukan ICLA. Disampaikannya, konferensi ini sangat perlu dilakukan karena menunjukkan adanya penelitian dan riset yang dilakukan. Pasalnya di UNP sendiri, menjadikan riset dan penelitian ini sebagai kebiasaan sehingga menjadi budaya di lingkungan civitas UNP.

"Mulai dari mahasiswa, dosen, hingga guru besar dituntut untuk bisa melakukan riset. Hasil riset ini dilanjutkan dengan publikasi. Sehingga bisa menjadi referensi bagi peneliti lainnya," katanya.

Ganefri menyebutkan di UNP di tahun 2019 ini sudah dua puluhan kali melakukan konferesi internasional. Setiap fakultas bahkan jurusan di UNP melakukan konferesi internasional. Ini menandakan kesadaran untuk meneliti di UNP mulai berkembang. 

Ke depannya, UNP juga akan memberikan bantuan berupa dana hibah pada program sarjana, magister, hingga doktor untuk melakukan penelitian.

"Tahun 2020 ini juga dibuatkan grand riset untuk program magister dan doktor. Inovasi wajib dilakukan agar bisa menjawab tantangan era 4.0 ini," katanya.

Prof. Ganefri menekankan agar perilaku dosen mesti berubah. Ini sejalan dengan perkembangan teknologi. Perkembangan kecerdasan buatan mengubah perilaku semua. 

"Ini yang menjadi hal yang perlu dan wajib dilakukan," katanya. 

Dekan FBS UNP Prof. Ermanto, menyebutkan, untuk konferensi di FBS itu ada tiga konferensi intenasional dan empat yang nasional. Dengan semakin banyaknya seminar internasional itu membuka banyak peluang bagi pemakalah. Ada 134 pemakalah dengan pemakalah dari UNP dan pemakalah dari luar UNP. ICLA ini akan tetap digelar setiap tahunnya. "Diharapkan akan tetap ada dari tahun ke tahun," katanya.

Untuk makalah ICLA ini sudah diterbitkan dijurnal internasional yang terindeks dengan prosiding. Pemateri utama Masamichi Ueno dari Sophia University Japan, Lee Kooi Cheng dari National University of Singapore, Ramlee Musatapaha dari Sultan Idris Education University, Khairul Aidil Azlan Abd Rahman dari University Putra Malaysia, Prof. M. Zaim dari UNP, dan Triyono Bramantyo dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Konferensi ini juga merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-65 UNP. 

"Di samping dimuat di jurnal yang terindek dan bereputasi itu akan berbeda penilaiannya. Dimana akan berdampak kepada penilaian kepada universitas," ujarnya didampingi Ketua Pelaksana,  Heldi.

Katanya, kebijakan rektor semua jurnal itu sudah harus terindeks scopus. Riset universitas itu merujuk kepada seberapa banyak hasil penelitian dari dosen yang terpublikasi.

Seminar internasional intinya bukan untuk dosen UNP saja, namun untuk semua dosen yang ada di Indonesia bahkan dunia internasional. "Bahkan ini mendorong visi UNP untuk menjadi Perguruan Tinggi di Asia Tenggara," katanya. (Agusmardi/Humas UNP)