Kemenristekdikti Sampaikan Pagu Indikatif TA 2020

Kemenristekdikti Sampaikan Pagu Indikatif TA 2020
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Kementerian Ristekdikti menyampaikan pagu indikatif untuk Tahun Anggaran 2020 kepada Komisi VII DPR RI sebesar 39,7 Triliun rupiah. Adapun alokasi anggaran tersebut terdiri dari fungsi pendidikan sebesar 39 Triliun dan fungsi riset teknologi (ristek) sebesar 715,04 Miliar. Pada tahun sebelumnya (2019) sendiri pagu Kemenristekdikti sebesar 40,21 Triliun.

Pagu indikatif TA 2020 disampaikan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI tentang Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) RAPBN Tahun Anggaran 2020 di Gedung Nusantara I DPR, 19/6.

Adapun program prioritas Kemenristekdikti TA 2020 (Fungsi Ristek) terdiri dari Pengembangan Taman Sains dan Teknologi, Pengembangan Pusat Unggulan Iptek, Beasiswa SDM Iptek, Teknologi untuk Masyarakat, Pengembangan Teknologi Industri, Pengembangan PPBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi), dan Pengembangan Inovasi Industri. 

Menristekdikti mengatakan selain di Kemenristekdikti, anggaran riset juga tersebar di beberapa kementerian/lembaga. Untuk itu, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dan sinergi agar inovasi yang dihasilkan sesuai dengan yang dibutuhkan. 

“Kita sudah punya Master Plan Riset Prioritas di Indonesia, yaitu Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Di tahun 2025, saya mengharapkan Indonesia Iptek dan Inovasinya melesat seperti Negara Maju, a.l.Korea Selatan. RIRN mencakup  bidang-bidang prioritas Ristek dan Inovasi, yakni Pangan Pertanian, Kesehatan Obat, Teknik Rekayasa (termasuk Teknologi Informasi dan Komunikasi), Transportasi, Material maju, Teknologi Pertahanan,  EBT (Energi Baru Terbarukan), Maritim, Kebencanaan, dan  Sosial Humaniora,” jelas Menristekdikti. 

Selain RIRN saat ini pemerintah bersama DPR juga tengah menyusun RUU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) dimana didalamnya juga akan mengatur dengan jelas implementasi Iptek dan Inovasi di Indonesia. 

Dengan adanya RIRN dan UU Sisnas Iptek nantinya, Menristekdikti berharap semua lembaga litbang di kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan Perguruan Tinggi akan terkoordinir msnjadi lebih sinergis. 

Menteri Nasir juga menyampaikan pengembangan riset teknologi dan inovasi, harus selalu berkembang lebih baik ke depan, apalagi Indonesia dan negara lain didunia harus menyiapkan strategi menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) targets. Pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia harus diupayakan untuk  memajukan UKM maupun Industri di Indonesia. Sebagai hasil dari upaya Kemenristekdikti menggiatkan inovasi, dalam 5 tahun terakhir  jumlah start up dari tahun 2015 sampai 2019 melonjak menjadi 1307 (total start up dan calon start up) yang didanai Kemenristekdikti di periode 2015-2018. 

Di bidang energi, dunia riset tanah air juga telah menghasilkan hasil yang membanggakan seperti Katalis Merah Putih hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung dan PT. Pertamina.

“Untuk inovasi di bidang 'renewal energi' telah dihasilkan Katalis Merah Putih (hasil kerjasama ITB dan Pertamina Dumai), dipraktekkan di Pertamina Dumai. Inovasi seperti ini akan menekan 'cost' nantinya,” ungkap Nasir.

Pada kesempatan yang sama, LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti juga turut menyampaikan pagu indikatif tahun 2020 yaitu BAPETEN sebesar Rp.126,62 M, BATAN Rp. 710,67 M, BIG Rp. 811,5 M, BPPT Rp. 1,8 T, LAPAN Rp. 616 M, dan LIPI Rp. 1,6 T. (Karina Ayu dan Ayu Pravita, Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemristekdikti)

Instagram: @Ristekdikti
Twitter: @Kemristekdikti
Facebook: Kementerian Riset,  Teknologi dan Pendidikan Tinggi
YouTube: Ristekdikti TV
Website : https://ristekdikti.go.id
Google Play: G-Magz

#KerjaBerdampak
#InovasiIndonesia
#BikinIndonesiaMaju
#RistekdiktiBranding