Kuliah Umum bersama Andrianof di UNP: 'Lamak dek Awak, Katuju dek Urang' Wujud Kewirausahaan Sosial

Kuliah Umum bersama Andrianof di UNP: 'Lamak dek Awak, Katuju dek Urang' Wujud Kewirausahaan Sosial
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Komisaris Utama (Komut) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Andrinof A Chaniago jadi dosen tamu pada kuliah umum UNP Padang, Jumat (25/5) sore.

Andrinof pun mampu menghipnotis ratusan mahasiswa dan segenap civitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP), dan mampu memotivasi audiens tentang Kewirausahaan Sosial Menjawab Tantangan Dekade Bonus Demografi dan Era Digital di Auditorium UNP Padang.

Menurut Mantan Mentri PPN/Bappenas itu, di masa datang ada dua hal yang akan dihadapi oleh mahasiswa yang sedang kuliah saat ini dalam menghadapi kompetisi yang keras dalam mencari pekerjaan.

“Pertama, tahun 2020 nanti, mereka akan masuk ke dalam keranjang beban demografi yang disebut dengan “bonus demografi”. Saat itu penduduk usia produktif jumlahnya terbesar dalam sejarah. Bonus demografi ini akan berlangsung selama satu dekade, dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 nanti,”ujar Andrinof

Karena banyaknya jumlah usia produktif, maka secara otomatis akan berlangsung persaingan ketat dalam mendapatkan sebuah pekerjaan

“Persaingan merebut lapangan kerja di era itu sudah pasti ketat,”ujar pakar ekonomi Universitas Indonesia ini.

Andrinof pun membentangkan  tantangan kedua yaitu Revolusi 4.0 atau era digital yang bisa menghapus banyak pekerjaan.

“Bersamaan dengan bonus demografi, para pencari kerja juga akan berhadapan dengan era digital atau Revolusi 4.0 itu menciutkan kesempatan kerja. Era digital ditandai dengan diambil alihnya banyak jenis pekerjaan oleh teknologi informasi dan sistem digital,”ujar tokoh minang yang dikenal dekat dengan RI 1 ini.

Tapi dua tantangan hebat itu, kepada mahasiswa UNP dan Sumbar keseluruhan, Andrinof menekankan tidak perlu cemas dan gamang, jika mau mengubah sikap mental menjadi bermental wirausaha.

“Lulusan perguruan tinggi dituntut mengubah pola pikir dan mental ke arah mental wirausahawan. Wirausahawan harus bermental mandiri, gigih, inovatif, kreatif, pantang menyerah dan mau berinisiatif untuk mewujudkan ide-ide kewirausahaan tersebut,”ujarnya.

Menurut Andrinof, para mahasiswa tidak cukup berpangku tangan. Para lulusan universitas harus meningkatkan produktifitas dan posisi tawar. Anak muda juga harus kreatif dan inovatif serta menyesuaikan diri dengan teknologi. Misalnya memanfaatkan media sosial atau website.

“Caranya dengan berwirausaha melalui aset yang dimiliki. Bermodal tidak dengan finansial saja tapi juga memanfaatkan sosial kapital. Bersinergi dengan lembaga keuangan dan pihak-pihak lain untuk mengembangkan usaha, berani mengambil keputusan dan melakukan aksi ketika momentum tiba serta pandai menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi,”ujar Andrinof memberikan tips.

Dan saat ini kata Andrinof, telah banyak pengusaha muda wirausahawan sosial yang mendapat keuntungan dari memanfaatkan teknologi informasi.

Berwirausaha sambil memecahkan masalah sosial (seperti pengangguran, kemiskinan, ketimpangan dan kualitas lingkungan yang buruk) menurut Andrinof merupakan suatu langkah yang sangat luar biasa.

“Kewirausahaan sosial itu sama dan sesuai sekali  dengan falsafah Minangkabau “Lamak di awak katuju di urang” itu adalah landasan nilai untuk kewirausahaan sosial. Karena dengan berwirausaha sosial kita bisa memecahkan masalah-masalah sosial, mendukung dan memfasilitasi kegiatan budaya, dan menjaga kelestarian lingkungan,”ujarnya.

Dengan berwirausaha sosial, otomatis kata Andrinof mahasiwa dan pemuda telah memerangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, melestarikan lingkungan, mewujudkan lingkungan sehat, memajukan kebudayaan, menegakkan keadilan, mendorong pemerataan, mendorong kerja sama, dan merangkul kelompok marginal.

Sebelumnya Rektor UNP, Prof Ganefri membuka kuliah umum ini sekaligus penyerahan plakat UNP kepada Andrianof. (Humas UNP)

aaa