Pembelajaran Kimia Abad 21 Upaya Menumbuhkan Literasi dan Kompetensi Siswa Milenial

Pembelajaran Kimia Abad 21 Upaya Menumbuhkan Literasi dan Kompetensi Siswa Milenial
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Padang -- Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) yang dipimpin Efendi MSc, dosen Kimia Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP berupaya meningkatkan pembelajaran kimia Bagi Guru Mata Pelajaran Kimia di Kabupaten Solok Sesuai Tuntutan Kurikulum 2013 Revisi 2017. Maka pelatihan Pelatihan Pengembangan LKPD Kimia SMA Berbasis Inkuiri Terbimbing digulirkan.

"Sekarang kita berada Abad 21 merupakan abad yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga menuntut sumber daya manusia sebuah negara untuk menguasai berbagai bentuk keterampilan,  termasuk keterampilan berpikir ritis dan pemecahan masalah dari berbagai permasalahan yang semakin meningkat," kata  Effendi, M. Sc, Dosen Kimia FMIPA UNP didampingi Dr. Mawardi, M.Si, Anggota Kimia Analitik dan Pendidikan Kimia FMIPA UNP di ruang kerjanya, Rabu (6/11/2019).

Menurut dia , dalam setiap mata pelajaran Kimia dengan kompetensi dan konteks yang harus memacu peserta didik untuk memiliki ketrampilan berpikir dari yang sederhana (LOTs) menuju proses berpikir tingkat tinggi (HOTs). Untuk itu dalam rangka pengabdian kepada masyarakat (pkm) pihaknya telah melaksanakannya kepada Guru-Guru Mata Pelajaran Kimia SMA/MA yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia Kabupaten Solok  dan Kabupaten Agam dari bulan Sepember hingga akhir Oktober lalu.

Dr. Mawardi, M.Si Kegiatan PKM di MGMP Kimia Kab. Agam (Mantan Kajur Kimia) dan Effendi, S.Pd, M.Sc Kegiatan PKM di Kab. Solok. Mawardi menjelaskan, salah satu usaha yang dilakukan pemerintah pada saat ini adalah dengan menggulirkan Kurikulum 2013 yang merupakan kurikulum Nasional dengan terus menerus diperbaharui agar selaras dengan tuntutan Pendidikan Global dan tidak menyimpang dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

"Pembelajaran Abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi," ujarnya.

Dikatakannya, seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan mampu berkomunikasi dengan baik akan meningkat pula karakternya, sehingga keilmuan dan kompetensi yang dikuasainya akan menjadikannya memiliki sikap/karakter yang bertanggung jawab, bekerja keras, jujur dalam kehidupannya sehingga akan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter dan kompetensi.Ditambahkannya, melalui pembelajaran tersebut pada akhirnya dapat mengahasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten dan literat untuk siap menghadapi tantangan Abad 21. 

"Untuk memenuhi tuntutan Kurikulum 2013 Revisi 2016 tersebut, menuntut perubahan dalam proses pembelajaran dari siswa diberitahu menjadi siswa mencaritahu dan proses penilaian menjadi berbasis kemampuan melalui penilaian proses dan output, sehingga diperlukan perubahan dalam hal representasi materi dan proses pembelajaran," jelasnya.

Salah satu komponen penting yang harus tersedia, sambungnya adalah bahan ajar yang berorientasi proses saintifik yang dapat menfasilitasi terjadinya proses saintifik. Persoalan yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya bahan ajar yang berorientasi proses seperti tuntutan Kurikulum 2013 tersebut dan belum mampunya sebagian besar pendidik dalam mengembangkan bahan ajar secara mandiri. 

"Oleh sebab itu, penelitian pengembangan pembuatan bahan ajar yang berorientasikan model pembelajaran inquiri terbimbing/guided-inquiry harus diupayakan, sehingga proses pembelajaran kimia menghasil tiga tingkatan pembelajaran (three learning levels), yaitu representasi simbolis, makroskopik dan sub-mikroskopis, atau molekular, yang sangat diperlukan siswa untuk memahami kimia, dapat dicapai," jelasnya. (Agusmardi/Humas UNP)