Simposium PSSHERS UNP: Generasi Milineal Harus Santun Berkomunikasi

Simposium PSSHERS UNP: Generasi Milineal Harus Santun Berkomunikasi
Printer Friendly, PDF & Email
Kategori

Padang -- Generasi milineal harus santun berkomunikasi dengan meningkatkan kemampuan literasi media dan bahasa terutama ketika memanfaatkan media sosial. Jika kemampuan literasi media rendah dan kesantuan komunikasi juga rendah,  maka akibatnya adalah kesalahan komunikasi dalam media sosial yang akhirnya berhadapan dengan hukum. Demikian simpulan dari pemakalah utama pada sesi pleno simposium bertajuk The 1st Progress in Social Science, Humanities and Education Research Symposium (PSSHERS) yang dilaksanakan siang ini (7/11) bertempat di Aula Fakultas Ekonomi Kampus UNP Air Tawar Padang.

Empat orang pemakalah utama yang membentangkan paparannya pada simposium PSSHERS adalah Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia), Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum. (Universitas Negeri Padang), Lt. Kdr Dr. Abu Yazid Abu Bakar, Ph.D., M.Ed. (Universiti Kebangsaan Malaysia), Assoc. Prof. Dr. Marlina, S.Pd., M.Si. (Universitas Negeri Padang).

Pada kesempatan itu,  Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia), menjelaskan bahwa generasi milineal  harus memiliki kemampuan literasi media yang baik sehingga bisa membedakan informasi yang benar dengan informasi yang tidak benar sehingga tidak terjerumus pada penyebaran informasi hoaks. Sejalan dengan itu,  Prof. Dr. Ermanto,  S.Pd., M. Hum. menegaskan generasi milineal harus santun berbahasa karena dalam sejarah politik negeri ini,  bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang mulitietnis dan multikultural. 

Menurut Prof. Ermanto bahasa Indonesia ditetapkan secara politis sebagai bahasa nasional seiring pengakuan bangsa Indonesia secara politis tersebut. Pada saat ini bahasa Indonesia sudah direvitalisasi kembali penggunaannya seiring dengan sudah adanya Undang-undang tentang bahasa tahun 2009 dan Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2019. Apalagi, pada tanggal 6 November 2019 para guru besar Indonesia dan Asia Tenggara menyatakan tekad untuk penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu sebagai bahasa ilmiah internasional.

Pada kesempatan itu dua pemakalah utama yang lain yakni Lt. Kdr Dr. Abu Yazid Abu Bakar, Ph.D., M.Ed. (Universiti Kebangsaan Malaysia) dan Assoc. Prof. Dr. Marlina, S.Pd., M.Si. (UNP) membicarakan peningkatan proses pembelajaran dengan memperhatikan paradigma tradisional dengan paradigma pembelajaran untuk semua termasuk melayani anak dengan berbagai kondisi. 

Sementara Ketua Pelaksana Dr. Rahardian Zainul.,S.Pd.,M.Si dalam laporanya menegaskan bahwa makalah yang telah dinyatakan lolos proses review akan diterbitkan pada penerbit-penerbit terindeks. Makalah Simposium PSSHERS akan diterbitkan pada Atlantis Press yang terindeks Clarivate Analytics Web of Science, sedangkan makalah Simposium PSTRS akan diterbitkan pada Journal of Physics Conference Series dan IOP Publishing yang terindeks SCOPUS dan Clarivate Analytics Web of Science. (ET/Humas UNP).